NICE HOMEWORK #3
Tulisan ini dibuat dalam rangka
NHW#3 Institut Ibu Profesional
Bagi anda yang sudah berkeluarga
dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
Jatuh cintalah kembali kepada
suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan
kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya
dan lihatlah respon dari suami.
Respon : will be updated soon
Lihatlah anak-anak anda, tuliskan
potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
Nama : Tsabita Khairani Shava
Usia : 9 bulan (Lahir bulan Mei
2016)
Potensi : Bayi merupakan bola
potensi yang tidak terbatas. Tsabita bisa menjadi apa saja, dokter, professor,
astronot, atau dia bisa memasukkan jari kaki ke mulutnya (that’s good too. Wkwk).
Jadi saya belum bisa memutuskan potensi apa yang akan dikembangkan mengingat
kami masih baru mengenalkan dia dengan kehidupan baru ini. Tetapi jika mempelajari
lebih dalam selama 8 bulan ini, Tsabita sejak lahir jarang sekali menangis, dia
terlahir dari darah seorang pejuang (kakek saya seorang pejuang 45), maka
potensi yang ingin saya depankan untuknya adalah potensi yang dapat membawanya
menjadi garda terdepan kemashlahatan umat. Sebagai anak pertama, maka kami akan
mengajarkannya tentang kepemimpinan, welas asih, berani membuat keputusan, dan
juga mengayomi karena itu modal dasarnya untuk menjadi kakak bagi adik-adiknya,
dan juga modal untuk pergaulannya kelak.
Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian
tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda
dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi
yg anda miliki.
I am a good planner, he is a good executor. Dan beginilah cara
Allah mempertemukan kami. :D Abi adalah seorang pekerja keras yang sangat
serius dalam mempelajari sesuatu. Kita tidak memerlukan bakat untuk bisa
menjadi sukses terhadap bidang tertentu, kemauan dan kerja keras saja sudah
cukup untuk mencapai apa yang kita mimpikan. Ah satu lagi, istiqomah. Hehe.
Saya dan suami sama dalam hal ini, kami tidak punya bakat yang menonjol. Saya
suka menulis, tapi tidak pada level bakat seorang Tereliye ataupun Asma Nadia.
Suami saya suka fotografi, meski sangat jauh dari Jimmy Iskandar ataupun
Andreas Darwis (saya gak kenal keduanya, kayaknya suami saya juga nggak. Tapi
kata google mereka Pro banget. Wkwk). But we love it and still do it. Meski
hanya sesekali, menjadi sekedar hobi ataupun menjadikannya sebagai tambahan
penghasilan. Tapi bertemu dengannya, ternyata memang bukan hanya bertemu
seorang pasangan hidup, dia adalah partner
of everything. Kami bekerja di sektor yang sama, memiliki hobi yang bisa
menghasilkan jika dikerjakan bersama. Ini adalah bekal yang sangat luar biasa
yang sangat bisa dikembangkan lebih besar dan besar lagi. Dan kelahiran anak
kami, bukan hanya menjadikan kami seorang ayah dan Ibu. Keberadaannya membuat
kami terpaksa belajar lebih banyak lagi, tidak hanya tentang pola asuh, tetapi
juga tentang banyak hal, dari mulai manajemen waktu, manajemen keuangan, dan
khususnya untuk saya, saya banyak belajar kembali ilmu ilmu saat saya sekolah
dahulu, yaitu ilmu Pangan. Dengan dukungan penuh dari suami saya, juga dari
lingkungan kerja saya (yang juga mengerjakan hal di sektor pangan), saya pun
memutuskan untuk mempelajari kembali ilmu pangan dan gizi untuk keluarga, agar
kemudian bisa banyak berbagi dengan Ibu Ibu muda se Indonesia.
Lihat lingkungan dimana anda
tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda
menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Tantangan terbesar yang tengah
saya hadapi sebenarnya adalah diri saya sendiri. Saya memiliki lingkungan dan
keluarga yang mendukung apapun yang saya lakukan. Tapi saya masih ingin
melakukan banyak hal, ingin mencapai banyak hal, tetapi tanggung jawab yang
saya inginkan diselesaikan dengan sempurna seakan menjadi penghalang itu semua.
Padahal tidak, saya hanya perlu mengatur kembali waktu saya, mengatur kembali
capaian capaian saya, tidak terlena pada kegiatan yang itu itu saja. Saya hany
perlu lebih banyak membaca, lebih banyak menulis, dan kemudian memutuskan apa
yang akan saya lakukan ke depannya. Suami saya akan senantiasa mendukung, saya
hanya perlu mengatakan apa yang saya rencanakan, and as always, he will be a very good executor for every plan that I
propose. Thank you Abi.. for always support me.
Setelah menjawab pertanyaan -
pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya
"peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
aku punya mimpi yang sangat
sederhana….
Menjadi seorang ibu, yang
menghabiskan waktunya untuk anak2 dan suaminya. Memasak, merajut, berkebun. Itu
adalah kehidupan sempurna untuk seorang wanita versiku. Dan… mungkin itu yang
kelak diharapkan oleh keluarga kecilku yang bahagia. Aku yang selalu ada untuk
mereka.
Tapi….aku berhutang banyak pada
negeri ini, pada tanah ini, pada agama ini, juga pada keluarga besar yang telah
mengenalkanku pada pendidikan tinggi.
Maka, aku membesarkan mimpiku.
Kelak… aku tidak hanya
memasak,merajut,dan berkebun. Tetapi, aku akan memberikan banyak hal yang
dibutuhkan tidak hanya oleh anak-anak dan suamiku, tetapi juga oleh agama dan
negeri ini.
Dear my future husband,
gapapa ya kalo punya istri yang bermimpi besar. ;*
(ditulis oleh
saya di masa lalu, pada 3 Februari 2013,
10 bulan sebelum saya mengenal suami saya saat ini dan ternyata cocok untuk
menjawab statement terakhir NHW ini)
Salam Ibu Profesional
Ratih
Peserta Martikulasi Ibu
Profesional Batch 3
No comments:
Post a Comment