Thursday, February 9, 2017

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH NHW#3



NICE HOMEWORK #3

Tulisan ini dibuat dalam rangka NHW#3 Institut Ibu Profesional
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.


Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.


Respon : will be updated soon

Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Nama : Tsabita Khairani Shava

Usia : 9 bulan (Lahir bulan Mei 2016)

Potensi : Bayi merupakan bola potensi yang tidak terbatas. Tsabita bisa menjadi apa saja, dokter, professor, astronot, atau dia bisa memasukkan jari kaki ke mulutnya (that’s good too. Wkwk). Jadi saya belum bisa memutuskan potensi apa yang akan dikembangkan mengingat kami masih baru mengenalkan dia dengan kehidupan baru ini. Tetapi jika mempelajari lebih dalam selama 8 bulan ini, Tsabita sejak lahir jarang sekali menangis, dia terlahir dari darah seorang pejuang (kakek saya seorang pejuang 45), maka potensi yang ingin saya depankan untuknya adalah potensi yang dapat membawanya menjadi garda terdepan kemashlahatan umat. Sebagai anak pertama, maka kami akan mengajarkannya tentang kepemimpinan, welas asih, berani membuat keputusan, dan juga mengayomi karena itu modal dasarnya untuk menjadi kakak bagi adik-adiknya, dan juga modal untuk pergaulannya kelak.

Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.

I am a good planner, he is a good executor. Dan beginilah cara Allah mempertemukan kami. :D Abi adalah seorang pekerja keras yang sangat serius dalam mempelajari sesuatu. Kita tidak memerlukan bakat untuk bisa menjadi sukses terhadap bidang tertentu, kemauan dan kerja keras saja sudah cukup untuk mencapai apa yang kita mimpikan. Ah satu lagi, istiqomah. Hehe. Saya dan suami sama dalam hal ini, kami tidak punya bakat yang menonjol. Saya suka menulis, tapi tidak pada level bakat seorang Tereliye ataupun Asma Nadia. Suami saya suka fotografi, meski sangat jauh dari Jimmy Iskandar ataupun Andreas Darwis (saya gak kenal keduanya, kayaknya suami saya juga nggak. Tapi kata google mereka Pro banget. Wkwk).  But we love it and still do it. Meski hanya sesekali, menjadi sekedar hobi ataupun menjadikannya sebagai tambahan penghasilan. Tapi bertemu dengannya, ternyata memang bukan hanya bertemu seorang pasangan hidup, dia adalah partner of everything. Kami bekerja di sektor yang sama, memiliki hobi yang bisa menghasilkan jika dikerjakan bersama. Ini adalah bekal yang sangat luar biasa yang sangat bisa dikembangkan lebih besar dan besar lagi. Dan kelahiran anak kami, bukan hanya menjadikan kami seorang ayah dan Ibu. Keberadaannya membuat kami terpaksa belajar lebih banyak lagi, tidak hanya tentang pola asuh, tetapi juga tentang banyak hal, dari mulai manajemen waktu, manajemen keuangan, dan khususnya untuk saya, saya banyak belajar kembali ilmu ilmu saat saya sekolah dahulu, yaitu ilmu Pangan. Dengan dukungan penuh dari suami saya, juga dari lingkungan kerja saya (yang juga mengerjakan hal di sektor pangan), saya pun memutuskan untuk mempelajari kembali ilmu pangan dan gizi untuk keluarga, agar kemudian bisa banyak berbagi dengan Ibu Ibu muda se Indonesia.

Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Tantangan terbesar yang tengah saya hadapi sebenarnya adalah diri saya sendiri. Saya memiliki lingkungan dan keluarga yang mendukung apapun yang saya lakukan. Tapi saya masih ingin melakukan banyak hal, ingin mencapai banyak hal, tetapi tanggung jawab yang saya inginkan diselesaikan dengan sempurna seakan menjadi penghalang itu semua. Padahal tidak, saya hanya perlu mengatur kembali waktu saya, mengatur kembali capaian capaian saya, tidak terlena pada kegiatan yang itu itu saja. Saya hany perlu lebih banyak membaca, lebih banyak menulis, dan kemudian memutuskan apa yang akan saya lakukan ke depannya. Suami saya akan senantiasa mendukung, saya hanya perlu mengatakan apa yang saya rencanakan, and as always, he will be a very good executor for every plan that I propose. Thank you Abi.. for always support me.

Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.

aku punya mimpi yang sangat sederhana….

Menjadi seorang ibu, yang menghabiskan waktunya untuk anak2 dan suaminya. Memasak, merajut, berkebun. Itu adalah kehidupan sempurna untuk seorang wanita versiku. Dan… mungkin itu yang kelak diharapkan oleh keluarga kecilku yang bahagia. Aku yang selalu ada untuk mereka.

Tapi….aku berhutang banyak pada negeri ini, pada tanah ini, pada agama ini, juga pada keluarga besar yang telah mengenalkanku pada pendidikan tinggi.

Maka, aku membesarkan mimpiku.

Kelak… aku tidak hanya memasak,merajut,dan berkebun. Tetapi, aku akan memberikan banyak hal yang dibutuhkan tidak hanya oleh anak-anak dan suamiku, tetapi juga oleh agama dan negeri ini.

Dear my future husband, gapapa ya kalo punya istri yang bermimpi besar. ;*

(ditulis oleh saya di masa lalu, pada  3 Februari 2013, 10 bulan sebelum saya mengenal suami saya saat ini dan ternyata cocok untuk menjawab statement terakhir NHW ini)


Salam Ibu Profesional

Ratih
Peserta Martikulasi Ibu Profesional Batch 3

No comments:

Post a Comment