Dear Abi,
.
Sudah setahun lamanya semenjak aku memutuskan memanggilmu dengan nama itu. Tidak lagi dengan Mas Hafidz, atau Say, atau Ay.. (ih..yang Ay gak pernah juga. Geli yak.wkwk). Padahal dulu kamu pernah bilang, ingin dipanggil Ayah saja oleh anak kita. Tapi kita masih tinggal bersama Ayah hingga saat ini, jadi nanti kalo kamu dipanggil Ayah oleh Bita, yang nengok jadi dua orang. Hehe. Intinya, ada kisah tersendiri tentang panggilan Abi ini. Karena duluu sekali saat SMA, aku selalu memperhatikan lebih lama seorang anak perempuan yang memanggil Abi kepada ayahnya. Entahlah.. mungkin karena nama itu cukup asing di lingkungan keluargaku, jadi mendengarnya bikin senyum senyum sendiri. Terdengar manis.
.
Sudah setahun lamanya semenjak aku memutuskan memanggilmu dengan nama itu. Tidak lagi dengan Mas Hafidz, atau Say, atau Ay.. (ih..yang Ay gak pernah juga. Geli yak.wkwk). Padahal dulu kamu pernah bilang, ingin dipanggil Ayah saja oleh anak kita. Tapi kita masih tinggal bersama Ayah hingga saat ini, jadi nanti kalo kamu dipanggil Ayah oleh Bita, yang nengok jadi dua orang. Hehe. Intinya, ada kisah tersendiri tentang panggilan Abi ini. Karena duluu sekali saat SMA, aku selalu memperhatikan lebih lama seorang anak perempuan yang memanggil Abi kepada ayahnya. Entahlah.. mungkin karena nama itu cukup asing di lingkungan keluargaku, jadi mendengarnya bikin senyum senyum sendiri. Terdengar manis.
Semakin aku dewasa, panggilan Abi di sebuah keluarga semakin mainstream, tapi aku tetap menyukainya. Entah kenapa. Kadang menyukai sesuatu itu tidak memerlukan alasan bukan? Tapi aku tidak berpikir untuk kelak memanggil suamiku dengan nama itu. Ah.. masak memanggil suami sendiri dengan nama Abi yang artinya "ayahku", pikirku yang kaku saat itu. Tapi aku lalu menemukan arti lain dari nama Abi... ialah kakak laki laki (tidak sedarah), dalam bahasa Turki. Saat mengetahuinya aku langsung berbinar dan di tengah kegalauan kita saat itu tentang nama panggilan orang tua untuk anak kita nanti. Aku pun meminta.."aku panggil Mas dengan nama Abi aja, gapapa kan?". Ah...gak Indonesiah banget sih. Lah Indonesia sendiri kan banyak menggunakan serapan bahasa asing, jadi its oke kok kalo kita nyomot bahasa asing untuk panggilan kesayangan, toh untuk nama itu gak perlu terdaftar di KBBI kan. Hehe.
.
Lah kenapa jadi ngomongin bahasa yak. Padahal niatnya mau nulis surat romantis. wkwk.
.
Iyah Abi, terkadang aku bingung. Aku udah gak kayak dulu lagi, bisa menulis puluhan kata puitis dan cerita cerita dengan sajak yang keren. Semenjak jadi emak emak, sense of poetry nya jadi terkikis. Padahal bi, ini sih kayaknya Abi lupa, soalnya aku baru ingat saat buka buka proposal pernikahan dulu. My future dream yang aku sampaikan saat itu ada 4, Married-Being a mother-write books-graduate school. Ah.. ternyata sebelum aku mencapai penulisan buku, aku harus melalui dua tahap mimpi yang saat ini tengah terwujud bersama Abi. Menikah dan menjadi Ibu.
.
.
Lah kenapa jadi ngomongin bahasa yak. Padahal niatnya mau nulis surat romantis. wkwk.
.
Iyah Abi, terkadang aku bingung. Aku udah gak kayak dulu lagi, bisa menulis puluhan kata puitis dan cerita cerita dengan sajak yang keren. Semenjak jadi emak emak, sense of poetry nya jadi terkikis. Padahal bi, ini sih kayaknya Abi lupa, soalnya aku baru ingat saat buka buka proposal pernikahan dulu. My future dream yang aku sampaikan saat itu ada 4, Married-Being a mother-write books-graduate school. Ah.. ternyata sebelum aku mencapai penulisan buku, aku harus melalui dua tahap mimpi yang saat ini tengah terwujud bersama Abi. Menikah dan menjadi Ibu.
.
Dear Abi..
.
Agar aku memiliki pernikahan yang sakinah, ternyata bukan hanya mimpiku Bi. Kamu dan pernikahan kita adalah mimpi dan doa yang senantiasa dipanjatkan Mama di dalam doanya sehabis sholat, hingga dibawa doa itu sampai ke masjidil haram. Kisah pernikahan Mama dan Papa yang menyisakan luka seakan menjadi motivasi untuk doa itu agar tidak pernah terputus. Untuk seorang anak yang memiliki riwayat broken home, bohong jika tidak memiliki rasa trauma, atau ketakutan tersendiri akan pernikahan. Abi masih ingat kan? Pertanyaan apa yang mama titipkan untuk Abi saat dulu ingin melamarku. "Mama sih setuju, tapi tolong ditanyain, apa dia gapapa dengan kondisi keluarga kita? Kalau dia gak masalah, mama setuju aja". Sesederhana itu persyaratan Mama. Tidak bertanya tentang pekerjaan Abi apa, orangnya bagaimana, latar belakangnya seperti apa. Mama hanya peduli tentang "apakah dia tidak masalah dengan kondisi keluarga kita?". Ada haru yang menyelinap jika mengingat masa masa mempersiapkan pernikahan dulu.
.
Aku tidak pernah tahu, seperti apa pernikahan yang sakinah itu, karena kami tidak besar di keluarga sebahagia itu. Tapi, kemudian Abi datang, bersama doa Mama, tentang pernikahan yang sakinah. Dan aku merasakannya bahkan hingga hari ini, sakinah bersamamu. Terima kasih Abi, atas kebaikan hatimu yang masih sama seperti dulu, kebaikan hati yang seluas samudera.
.
Lalu Bita terlahir, amanah yang dititipkan Allah pada kita. Aku mengandungnya selama 38 minggu, tidak bisa tidur tenang selama berbulan bulan, merasakan kram tiap malam, merasakan induksi selama dua hari hingga akhirnya bertemu meja operasi. Tapi dia...terlahir sangat mirip denganmu. Heuu.. Eh..aku tidak pernah menyesal Bita mirip denganmu kok, itu hanya celetukan seru saja di media sosial. Aslinya aku bersyukur Bita terlahir mirip denganmu, hihi, karena dengan melihat Bita saja, aku seperti merasakan keberadaanmu, dan dengan melihatmu, aku merasakan kerinduan pada Bita. Kalian berdua adalah harta yang tak ternilai harganya.
.
Abi sayang...
Agar aku memiliki pernikahan yang sakinah, ternyata bukan hanya mimpiku Bi. Kamu dan pernikahan kita adalah mimpi dan doa yang senantiasa dipanjatkan Mama di dalam doanya sehabis sholat, hingga dibawa doa itu sampai ke masjidil haram. Kisah pernikahan Mama dan Papa yang menyisakan luka seakan menjadi motivasi untuk doa itu agar tidak pernah terputus. Untuk seorang anak yang memiliki riwayat broken home, bohong jika tidak memiliki rasa trauma, atau ketakutan tersendiri akan pernikahan. Abi masih ingat kan? Pertanyaan apa yang mama titipkan untuk Abi saat dulu ingin melamarku. "Mama sih setuju, tapi tolong ditanyain, apa dia gapapa dengan kondisi keluarga kita? Kalau dia gak masalah, mama setuju aja". Sesederhana itu persyaratan Mama. Tidak bertanya tentang pekerjaan Abi apa, orangnya bagaimana, latar belakangnya seperti apa. Mama hanya peduli tentang "apakah dia tidak masalah dengan kondisi keluarga kita?". Ada haru yang menyelinap jika mengingat masa masa mempersiapkan pernikahan dulu.
.
Aku tidak pernah tahu, seperti apa pernikahan yang sakinah itu, karena kami tidak besar di keluarga sebahagia itu. Tapi, kemudian Abi datang, bersama doa Mama, tentang pernikahan yang sakinah. Dan aku merasakannya bahkan hingga hari ini, sakinah bersamamu. Terima kasih Abi, atas kebaikan hatimu yang masih sama seperti dulu, kebaikan hati yang seluas samudera.
.
Lalu Bita terlahir, amanah yang dititipkan Allah pada kita. Aku mengandungnya selama 38 minggu, tidak bisa tidur tenang selama berbulan bulan, merasakan kram tiap malam, merasakan induksi selama dua hari hingga akhirnya bertemu meja operasi. Tapi dia...terlahir sangat mirip denganmu. Heuu.. Eh..aku tidak pernah menyesal Bita mirip denganmu kok, itu hanya celetukan seru saja di media sosial. Aslinya aku bersyukur Bita terlahir mirip denganmu, hihi, karena dengan melihat Bita saja, aku seperti merasakan keberadaanmu, dan dengan melihatmu, aku merasakan kerinduan pada Bita. Kalian berdua adalah harta yang tak ternilai harganya.
.
Abi sayang...
perjalanan ini tidak akan selamanya menjadi perjalanan yang bahagia. Akan selalu ada salah paham, akan selalu ada rasa panik, akan selalu ada rasa takut, rasa sedih, rasa marah, dan lelah dan mungkin jenuh. Jika masa masa itu datang, mari kita buka kembali surat ini Bi. Surat yang dengan hati yang mendalam, aku tuliskan untuk Abi. Bahwa, rasa cinta saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaan, pada seseorang yang setiap bangun tidur, wajahnyalah yang pertama kali kulihat.
.
Terima kasih Abi, karena pernah memperkenalkan diri pada Desember 2013 lalu, aku yang saat itu tidak pernah tahu bahwa pria tidak kukenal (yang honestly cukup ganteng) itu, saat ini menjadi laki laki yang pada ridhonya ada ridho Allah yang kelak membawaku ke syurga.
.
L'avenue office tower
10 Februari 2016
.
Terima kasih Abi, karena pernah memperkenalkan diri pada Desember 2013 lalu, aku yang saat itu tidak pernah tahu bahwa pria tidak kukenal (yang honestly cukup ganteng) itu, saat ini menjadi laki laki yang pada ridhonya ada ridho Allah yang kelak membawaku ke syurga.
.
L'avenue office tower
10 Februari 2016
With Love,
your wife
your wife

No comments:
Post a Comment